Selasa, 22 September 2015

Doa

Doa yang mengikat
mengikat ego yang begitu eratnya tanpa kita sadari.
Berdoa agar orang-orang yang kita kasihi selalu selamat jauh dari segala bahaya.
Bukankah itu hak Tuhan ?
mendatangkan apapun bagi siapapun, bukankah itu hak Sang Pencipta.
Keterikatkan kita dengan orang terkasih menjadikan kehilangan menjadi sebuah ketakutan
sehingga selalu kita mintakan perlindangan dariNya karena mungkin secara tidak sadar kita takut ditinggalkan orang-orang terkasih.
Entahlah.... Tapi memang begitulah adanya.
Doa bersama ikatan-ikatannya. 
Tetap kupinta perlindunNya bagi orang-orang terkasihku.
Hanya karena Cinta dan belas kasihNya kebersamaanku bersama orang-orang terkasihku bisa ada.

Senja

Pagi yang tak begitu cerah menyapa, warna abu-abu mendominasi di langit. Senja, nama gadis itu.
Ia berjalan pelan dengan pandangan yang jauh menerawang, pikirannya ada di Malaysia sana memikirkan ibunya yang menjadi TKI dan tubuhnya menapaki jalan menuju sekolahnya di Wates, kota kecil yang meski tampak di peta tapi tak banyak tampak di pikiran orang. Berjalanlah Senja ke ruang piket guru. Ya....jam sudah menunjukkan pukul 07.25, dia sudah tau betul kalau terlambat dan sapaan pagi dengan tidak begitu hangat meluncur untuknya.

" Senja lagi, lagi-lagi Senja. Mau jadi apa nak besok ? Emakmu sudah jauh2 merantau jangan disia-siakan uangnya. Tiap hari kok telat. 

Kata-kata yang tak lagi dimaknai oleh Senja karna terlalu sering didengarnya. Terlalu basi untuk dicerna lagi. Tanpa disuruh, ia berjalan gontai mengambil kain lap untuk membersihkan jendela. Itulah rutinitasnya tiap pagi sebelum masuk kelas. Membersihkan jendela kantor sebagai bentuk hukuman atas keterlambatan, kadang tak jarang dia juga menyapu koridor. Untuk variasi hukuman kata seorang gurunya. Ah....betapa kreatifnya sampai-sampai hukuman juga bervariasi. Dan inilah track record seorang Senja :
1. Tiap hari terlambat
2. Alpa juga menjadi salah satu kebiasaannya.
3. Tidak menonjol apapun dalam kegiatan olahraga.
4. Suka berkata kasar, dan gonta-ganti pacar.
5. Merokok, malas dan suka tidur dikelas.
6. Saat olahraga lagi bisa dipastikan dia akan nebeng orang atau angkutan umum untuk menuju titik 
    finisnya.

Setidaknya itulah track record dimata para gurunya. Namanya tak pernah absen disebut diruang guru, meski kadang Senja sedang absen sekalipun. Yang teman-temanya tahu, Senja suka menolong, berkata kasar hanya sebagai reaksi ketidaksukaannya pada sesuatu.

Senja....siapa yang tidak mengenalmu.
wajahmu cantik, menyiratkan ketangguhan meski kadang tampak pucat kelelahan.
Entah apa yang sedang kau tahan.

Sehari dua hari, seragam putih abu-abumu itu tak muncul bersamamu ditengah-tengah kami.
Satu Minggu....dan penghakiman pun muncul
" ah....suka bolos"
"duh...jangan-jangan minggat sama pacarnya"

Dan tibalah berita itu, tentangmu Senja.
Senja...nama yang seolah-olah mengandung makna sementara, yang sesaat kemudian akan ditelan gelap. Dan gelap benar-benar menelanmu. Cahaya Senja berpulang pada pencipta cahaya dan gelap.

Siapa yang menyangka dirimu berjalan pelan karena jantung yang kau miliki ternyata bocor
wajahmu pucat, mencoba sampai ke tempat tujuan dengan tenaga yang kau miliki dan sakit yang kau tahan.
Siapa yang mau tau, dirimu memilih kembali ke sekolah dengan naik angkot saat olahraga lari karena tenagamu memang hanya tersisa untuk itu.
Siapa yang mau menanyakan beban hidupmu, kerinduanmu dengan Ibumu yang bertahun-tahun merantau dan tak menjumpaimu.
Siapa peduli, dirimu memilih tak masuk karena tenagamu habis sudah dihari sebelumnya.

Ah....bukankah orang memang suda menghakimi
orang lebih suka bersudut pandang negatif, menebak-nebak, menyimpulkan dan sampailah pada penghakiman yang sepihak.

Saat semuanya tahu, terlambat sudah untuk menjadi peduli. Sudah tidak ada Senja yang hidup. Senja sudah bersama Sang pencipta dimana cinta utuh pasti mengobatimu dari penghakiman orang-orang yang kau tinggalkan.
















day1

kesombongan

saya meyakini, (dan semoga salah) tiap orang memiliki kesombongannya masing-masing.
yang membedakan adalah tingkat kesombongannya dan bagaimana menyiratkannya.
ada yang dengan secara sadar memperlihatkan kesombongannya, yang menjadikannya sebuah kebanggaan.
ada yang dengan setengah sadar didalam kata-katanya mengandung kesombongan, sebuah abu-abu, antara sadar dan tidak sadar.
ada yang tidak secara sadar menyombongkan diri, mungkin hanya orang-orang yang super sensitif yang akan menangkap kesombongan yang samar ini.

Entah mana yang lebih bahaya, apakah sombong yang secara sadar, sombong setengah sadar atau sombong tidak sadar.

Sadar atau tidak sadar mungkin kita pernah melakukan dosa 3 kesombongan tersebut, entah dosa entah bukan. Rasa-rasanya seperti menghakimi saja. karena idealnya apa yang kita lakukan hendaknya tidak bertujuan untuk dikagumi, tapi....siapa yang tak merasakan nikmat pujian ?
Entahlah....

7 days challenge

7 days
menantang diri sendiri
memaksa diri, bukan untuk terpaksa
tapi untuk bisa karna dipaksa
mengabaikan "nanti"

Jumat, 03 Juli 2015

Dia

01 Juli 2015

Dia tiidak pernah ada tapi ada
Dia ada dan akhirnya menjadi tdak ada
tiada
Dia mempunyai nama.
namanya Dia.

Hanya aku yang tahu ini tentang siapa
tentang dia
ada dan menjadi tak ada

Rabu, 20 Mei 2015

Satu nasehat

Ada satu nasehat dari guru Bahasa Indonesia waktu aku duduk di bangku SMA. Beliau masuk dalam daftar guru yang tidak aku suka. gara-garanya cuma satu. Entah ada angin apa atau dapat bisikan dari siapa, si bapak Guruku itu memanggilku didepan (hmm karna aku ngobrol mulu sama teman sebangku)

Guru    : "hei....kamu, iya...kamu majui ke depan"
Aku     : "iya pak...." dengan tenangnya, padahal dalam hati ya serba was-was.
Guru   : " sekarang coba tunjukkan mana utara, selatan, barat dan timur."
Yang aku tau betul waktu itu tema yang dibahas ga ada yang nyinggung arah mata angin. 

Helooo....klo arah mata angin harusnya masuk di kurikulum IPS kala itu. Bukan hal yang susah memang. Tapi masalahnya adalah....aku tak tau arah mata angin, dan si guru ini berhasil menjebak aku dalam pertanyaan di luar konteks pelajaran. Aku masih heran, kok si bapak ini bisa tau ya kalau aku ga tau arah mata angin. haaah.... dan akupun memandang sahabatku yang duduk dideretan belakang. Yang satu tunjuk kanan, yang satu kiri. intinya mereka memberi atah yang berbeda-beda. Pupus sudah harapanku untuk tampil bersahaja di depan teman dan guruku satu itu.
itu adalah semacam kenangan buruk bersama 4 penjuru mata angin dan guruku.
Dan sampai detik dimana aku menuliskan kalimat ini aku sadar, ternyata ga ada nasehat dari beliau yang aku ingat, yang aku ingat cuma kisahku tadi yang cukup (tidak) dramatis.

dan ternyata nasehat yang aku ingat berasal dari salah sati dosen yang wajah, nama apalagi alamat aku tak ingat. Entah waktu itu menyelesaikan ujian atau tugas semacam membuat tulisan. Banyak para mahasiswa yang memegang bolpoint dengan kertas folio yang masih kosong, dengan sendu menatap ke luar jendela berharap inspirasi datang dan menjadi ilham dalam menuliskan jawaban,
Dosenku berkata " kalau ingin menulis, ambil bolpoint lihat kertas dan mulailah menulis, tak ada apa-apa diluar jendela, diatap juga ga ada apa-apa. mulailah menulis "

jadi setiap kali aku memaksakan untuk mencari inspirasi tentang apa yang aku tulis, aku selalu ingat nasehatnya, seperti yang aku lakukan malam ini, menatap atap-atap dari balkon mencari inspirasi, dapat satu kata kemudian tekan delete. dan aku ingat nasehatnya, "mulailah"

maka aku mulai menatap layar komputer dan mulai menari-nari jemariku yang tak lentik ini :)

Sabtu, 09 Mei 2015

usia senja

Saat kedua orang tua kita memasuki usia senja, hanya perhatian yg mereka inginkan. Harta dan sgala hal materi bukan lagi pemuas batin mereka. Sudah berpuluh-puluh tahun mereka habiskan untuk mencari uang demi mengantarkan kesuksesan anak-anaknya. Karena sesungguhnya anak-anak merekalah harta paling berharga. Lantas, saat usia mereka senja perhatian dari anak-anaknyaanak-anaknyalah yg diperlukan. Sekecel apapun perhatian yg diberikan, mereka akan merasakan keberadaan mereka diperhatikan. Mereka tidak merasakan kehilangan anak-anaknya. Love your parents