Sabtu, 07 Maret 2015

Encouraging Quiet in the Montessori Environment

Encouraging Quiet in the Montessori Environment
This article is about how we promote quiet in the Montessori Environment.
There are some methods that are respectful and considerate of the child:
·        Use sign language
Using the sign for “quiet” is discreet and respectful. It works well for individual children and it is also effective in large group settings.
·        Place a gentle hand on the child’s shoulder. No words are needed.
The calm reassuring touch quickly redirects focus and attention.
·        Use specific language. Example: “Noah can’t hear my lesson when you are humming.
·        Turn down competing sounds. Take notice of the classroom. Perhaps, the music (CD) is too upbeat to play during the morning work cycle.
·        Go outside, and let the children use their outside voices. Nature is a wonderful way to balance behavior.

The most powerful tool a Montessori teacher has to quiet and calm behavior is to consistently model appropriate behavior and volume. If we are loud, expect the children to be load. If speak in soft, calm tones, the children will too.
The silence game as a way of alerting children to listen to the world around them. For example, rain is a welcoming sound. Instead of telling the children it is raining, ring a chime and everyone stops what they are doing to listen.
The silence game can be a part of daily ritual or one that you play often. It will only serve to heighten the awareness of the children in your Montessori classroom by allowing them to reflect upon the world around them.

Montessori Silent Game
The silence game part 1
Dr. Montessori created silence game while working with children who were partially deaf. After observation, she noticed that their hearing improved when they were given opportunity to listen carefully for sounds. A similar activity is now implemented in Montessori schools all around the world and it is called “silent game”.
To implement the silent game, start by talking with the children about what it means to be silent. Invite them to close their eyes and listen to the sounds in the classroom for ten seconds and when time is up, raise their hand to share what they heard. Before playing the game, it is important that each child understand what it means to be silent and they have the opportunity to listen for the sound around them. Choose a time of day when the group is relatively calm and then proceed with the steps below:
·        Once everyone is sitting at circle time, make sound on our calming chime and the children know it is time to tuck their sounds away and listen.
·        Explain that we are going to play game called “the silent game”.
·        Explain that they need to keep their bodies still calm and to not make a sound, also let them know that they can play the game with their eyes open or with their eyes
·         
·        closed.
·        For the teacher, stand at the back of the classroom and quietly call the name of each child. Start with a few of the older children who are normalized and understand how to play game.
·        Make sure call each child’s name and once everyone is with teacher at the back of the room, thank each of them for playing the silence game and then send them one by one to choose some work from the shelves.
If there was a lot of fidgeting and noises throughout the silence game, next time make a point to reinforce the importance of being completely still and quiet and talk about how much harder it is to hear each name being called when children are moving and makes noises.

Variations on the Montessori silence game for developing skills
Variations on the Montessori silence game:
·        Darken the room and light candle while the silence game is taking place
·        Ring a bell to signal the starting of the silence game and ring a bell to signal the end of the silence game
·        You can have the children a task to focus on during the silence game.
For example, you can challenge them to hear noises that they may not normally be aware of. Once the silence game had ended, encourage them to share with the group what they heard.
·        If you have older children, you can simple have a sign that has the word “SILENCE” written on it and when you walk around the room holding up the sign, they will know that it’s time to tuck their sounds away and work silently until they hear a signal that ends silent work time such us bell or chime.
·        Create opportunity for children to enjoy silence on their own. Place a basket on a shelf in which there would be a mat to sit on as well as one-minute sand timer. The child simply takes the basket to a spot on the floor and removes the contents. The child should sit on the silence mat with their legs crossed and flip over the one minute timer. The child needs to sit very still and quiet for the duration of the time while focusing on the sounds around them.


The silence game takes practice. Young children and those who are not yet normalized have relatively short attention spans and find it ever so difficult to remain still and quiet for more than 20-30 seconds. With practice, attention spans lengthen and children learn to relax, absorb, and appreciate the world around them.

Doaku untuk para imam katolik

Saat seseorang memutuskan untuk menjadi seorang Imam (pastor) itu adalah hal luar biasa bagiku.
Betapa mereka peka terhadap pamggilanNya untuk berkarya, mengabdi dan mencintai umat tanpa dibalas cinta yang tulus (kadang)
Dan....para Imam  itu tetaplah manusia biasa.
Mereka pilihan Tuhan, tapi bukan berarti manusia sempurna.
Lantas...saat mereka para Imam melakukan kesalahan, apa hak kita untuk menghujat mereka ?
Tak pernah kita berpikir perjuangan mereka, salib yang mereka panggul dan hal-hal yang rela mereka tinggalkan untuk berkarya.
Mereka jugalah pribadi unik yang memiliki karakter yang berbeda tiap individu.
Lantas....apa hak kita menuntut mereka untuk seperti Imam2 lain yang mungkin menjadi Imam favorit terdahulu ?
Apa hak kita untuk menyamaratakan mereka dengan melupakan bahwa para Imam juga berkarya dengan keunikan masing-masing?
Karena kita umat katolik lantas itu menjadikan kita punya hak ?
Wahai para saudara-saudaraku seiman....
alih-alih menghujat, bawalah ketidakpuasanmu itu ke dalam untain doa.
Doakanlah para Imam kita untuk berkarya dengan lebih baik.
Pernah kau bayangkan hati seorang ibu yang mendengar bahwa anaknya yang rela menjadi Imam dihujat dibelakangnya??

Dan untuk para Imam, pastor yang sedang berkarya...
sebagian dari kalian telah menginspirasiku.
Semoga untain Doa ini menjadi setetes air yang menyejukkan dalam panas dan teriknya duniawi.

Tuhan......
Semoga para Imam selalu Engkau kuatkan dalam memenuhi panggilanMu.
Sejukkanlah hati mereka semua saat terasa kering dan hampa.
Jadikanlah selalu kata-kata yang keluar dari mulut mereka menjadi untaian harapan untuk para umat
Jadikanlah jamahan tangannya selalu penuh kehangatan dan cinta untuk sesama.
Jagalah mereka dengan cinta kasihMu yang tak terbatas
Karuniakanlah kedamaian selalu di hati mereka. Amin.

Kamis, 19 Februari 2015

goes wrong....wrong and wrong

Maaf utk tidak bisa pura2 ceria
Maaf utk mendewa-dewakan kesal dihati
Maaf utk tidak menyambut dgn penuh kehangatan meski lelahmu bgitu nampak
Maafmu smkin membuat aq bersalah
Kadang....aq bisa dibuat benci oleh diriku sendiri.
Tapi sungguh....aq hanya ingin baik utk semua
Tidak semua yg nampak mudah bagimu jg mudah bagiku
Mungkin logikaku tak pernah ada utk berpikir
Dan mungkin perasaanmu tak ada utk berpikir.
Aq dibesarkan dgn banyak cacian dan hujatan, aq hanya ingin baik buat semua. Aq terlalu takut utk disalahkan
Maaf....

Selasa, 10 Februari 2015

Anast.: Yohanes Nangsiyo

Anast.: Yohanes Nangsiyo: Ayahku. Beliau  adalah ayah juara nomor satu (meminjam istilah dari Andrea Hirata) Beliau seperti gudang. Gudang cerita dan pengetahuan...

Balkon dan atap-atap rumah

Diatas balkon bersama atap-atap rumah.
Penatnya hari ini, mungkin seperti ratusan baju yang dipaksa-paksa untuk masuk ke koper yang mungil.
Sesak pasti, sperti tak ada ruang, atau memang itulah nyatanya.
Habis sudah ruangnya.

Berjalanku melangkah, melempar tas dan menghela napas.
Berjalan beberapa langkah di balkon lantai 3.
Segarnya udara yang menyapa meski bercampur lembabnya hujan.
Ah….mungkin seperti baju yang tak dipaksa paksa masuk ke koper.
Mata menelusuri atap2 yang tampak dari atas.
Merasa begitu megahku…kecilnya mereka
Tinggiku….rendah mereka.
Tapi bukan itu.

Satu hal yang aku sadari,
di bawah atap-atap yang tampak kecil dan tersebar sampai sejauh mata memandang
ada manusia2 yang menghuni dibawah atap-atap itu
manusia dengan segala masalahnya, dengan segala deritanya, tangisnya
dukanya maupun bahagianya.

Sesaat dalam kesendirian aku merasakan kebersamaan yang erat.
Semu tapi nyata dirasa.
Aku bersama para manusia-manusia yang menghuni dibawah atap-atap rumah itu.
Aku dan masalahku bersama para manusia lain dan masalah-masalah mereka.
Bukan hanya aku saja yang merasa penat pada hari itu.
Pastilah dibawah atap-atap itu ada helaan napas panjang tanda kepenatan.
Bukan aku saja yang perlu helaan napas yang super panjang, mereka juga.
Lantas…buat apa lagi aku mengeluh?
Kita punya masalah sendiri-sendiri, mari kita hadapi, bersama.
Kita bisa menghela napas bersama, sepanjang yang kita mau, mari menghela, bersama.
Meski kita tak pernah bersama sesungguhnya.
Mari kita hadapi, dan sadari kebersamaan yang semu ini.
Buat apa lagi mengeluh ? aku bersama kalian. Kalian bersama aku.


Balkon lt. 3, 100215, 07.45 pm

By: Anast.

Minggu, 08 Februari 2015

Yohanes Nangsiyo

Ayahku.
Beliau  adalah ayah juara nomor satu (meminjam istilah dari Andrea Hirata)
Beliau seperti gudang. Gudang cerita dan pengetahuan
Cerita tentang jaman sebelum merdeka
Tentang cacar yang dideritanya waktu itu dan pakaian goni berkutu yang menempel ditubuh kurusnya.
Jidat yang begitu luas menyiratkan pengetahuannya yang luas.
Senyum yang lembut menyuarakan kesabarannya.
Seseorang pernah bilang padaku, betapa mesranya kami.
Ya..karna waktu itu kusentil si upil dari hidungnya.
Kadang kemesraan dan kekurang ajaran itu tidak berbatas ^.^
Dulu aku pernah berpikir andai saja usianya lebih muda 10 tahun
Pastilah orang tidak salah mengira aku cucunya.
Ah…jahatnya aku ini.

Saat itu aku masih berseragam putih abu-abu
Saat duniaku runtuh untuk yang pertama kali
Beliau terserang stroke yang mengakibatkan kemampuan berbicaranya hilang
Tak bisa lagi bercengkerama, berdebat dan saling ejek
Memanggil namaku saja tak mampu.
Bukan ayahku kalau tanpa semangat.
Diusia yang senja, ayahku belajar membaca lagi, belajar berbicara.
Tiap pulang sekolah dengan putih abu-abu yang masih menempel
Ku ajari beliau membaca. Semangatnya sperti anak yang sudah sangat ingin bisa membaca.
Waktu berlalu, aku harus tinggal di Jogja untuk menempuh ilmu
Tak bisa lagi ku menemani untuk belajar.
Bukan ayahku kalau tanpa semangat.
Beliau mencoba membaca doa “Rama Kawula dan Sembah Bekti” tiap malam
Dengan terbata-bata dan pada akhirnya menjadi rangkaian doa yang indah.
Beliau mencoba untuk membaca doa Rosario, doa yang begitu panjang
Kadang aku malu pada dirku sendiri, enggan untuk berdoa demikian panjangnya
Tapi ayahku, dengan keterbatasan fisiknya mampu malantunkan doa dengan sempurna.
Saat aku dirumah, suara doanya menembus dinding tembok
Disebutkankanlah nama kami, anak-anaknya satu persatu
Nama kami selalu ada dalam doanya.

Saat ayahku menjalani operasi hernia
Tak ada satu keluhan keluar dari mulutnya.
Di usia yang semakin senja tentu sangat mengkwatirkan.
Bukan ayahku kalau tanpa semangat.
Para dokter dan susterpun heran dengan daya juang dan semangatnya.

Ya…usianya begitu senja, seakan malam sudah siap menjemput
Dan menelan dalam gelapnya.
Kini aku bersyukur bisa menemani ayahku melewati fase kehidupannya.
Beliau memiliki fase yang lengkap.
Mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, dan kembali menjadi anak-anak.
Kini ayahku menjadi seperti kanak-kanak lagi
Yang dibutuhkan adalah teman untuk bercanda untuk manghapu sepi.

Satu harapannya adalah melihatku menikah.
Semoga Bapa di Surga berkenan mengijinkan aku untuk sungkem di pangkuan ayahku

Ayah juara nomor satu.

By : Anast. 

Selasa, 03 Februari 2015

End of year vacation 2013

Dan….akhirnya berbulat tekat, naik bis menuju pulau dewata.
Tanpa rencana yang matang hanya bermodalkan keinginan dan niat, sampailah aku di pulau dewata dimana dulu aku pernah berjanji untuk menginjakkan kaki disini lagi.
Day 1, (271213)
Turunlah aku dari bus safari darma raya (kalo ga salah sey itu namanya) dan disambut dengan sesosok makhluk Tuhan yg ajaib, berbadan bulat berkulit hitam dengan senyum sumringah berrserta deretan giginya (yang selalu dibanggakan karna kerapiannya *dibandingkan punyaku), dan makhluk itu bernama “Ninus”. He’s my boyfriend. Dialah alasan terkuat mengapa ak bisa sampai di Bali. Dan dimulailah dengan petualangan kami. Senja segera menjemput kami dan akhirnya  tujuan pertama tidak lain tidak bukan adalah landamarknya Bali tentu saja.
Pantai kuta
Pantai kuta adalah pantai yang menjadi salah satu destinasi tempat wisata terfavorit. Terletak di selatan Denpasar, di Kabupaten Badung. Pantai matahari terbenam adalah salah satu julukannya. Dan pas di kuta terdapat pohon natal yang dibuat dari kaleng bir anker yang tercatat di museum MURI, ye..ye…
Dan salah satu hal yang tidak mengenakkan saat liburan akhiran tahun adalah suasana yang super duper ramai, wisatawan lokal buanyaaaak sekali. Tujuan kami para wisawatan pastilah sama yaitu “refreshing”. Menghilang sejenak dari rutinitas pekerjaan dan hal2 yang dilakukan sehari-hari. Setelah puas berfoto ria tibalah saatnya untuknya menikmati Mr. Sun tenggelam seolah ditelah hamparan laut.
Jauh-jauh ke Bali, berkendara berjam-jam dan menyeberang lautan untuk menikmati sop ceker, baca sekali lagi “ceker”. Ga karna di Bali terus cekernya jadi 6 jari, sama ajja, tetep lima. Berhubung gemar ceker jadinya ya cari ceker deh.

Day 2, (281213)
Pagi Bali….pagi Denpasar ^.^
Dengan stlye orang selayaknya yang sedang liburan dan berbackpacker ria (*dan tanpa pertimbangan yang matang), dengan semboyan “JADI HITAM (dari yg agak hitam), SIAPA TAKUT?” meski dalam hati agak ragu juga..hehehe. Dengan hot pant, kaos kutung, tas ransel yang setia menempel dipunggung. Tujuan yang diidam-idamkan adalah Tanah Lot. Biarpun udah pernah kesana 2x tapi bagiku secara pribadi tempat itu indahnya dan mistisnya tak dapat digambarkan dengan kata-kata (karna menggambar pastilah dgn pensil cs). Berbekal sate diperut, kamipun melaju dengan motor yang dipaksa kerja rodi, berbekal HP ber-GPS, dan plang penunjuk jalan. Brem..brem..brem, tibalah kami di pom bensin dan bertemu dengan seorang ibu yang baik hatinya
Ibu         : (dengan logat balinya) “liburan dek ?”
Me         : “ iya bu” dengan sumringah.
Dan datanglah si item bullet (baca: ninus) dengan (tidak) gagahnya.
Ibu         : “mau kemana?”
Me         : “Tanah lot”
Ibu         : “ kalian sudah kawin belum?”
Aku dan si Ninuz berpandang-pandangan, dengan tanda Tanya di jidat kami. Maksudnya apa niiih kok sampai kawin2 segala.
Ninus     : (tanpa berdosa dan tanpa dipikir) “ iya..sudah bu”
Ibu         “ooo… ya sudah kalau sudah kawin gpp. Soalnya kalau masih pacaran apa tunangan nanti kalau   ke Tanah Lot bisa putus. Beneran lho itu dek..udah banyak kasusnya.
Dan berbekal pernyataan dari si Ibu yang kebenarannya belum terverifikasi, kamipun pindah haluan alias pindah tujuan. Dalih kami adalah “daripada kita kepikiran”. Ya sudah…dari yang tadinya kami mo ke pesisir kami pindah ke naik-naik ke puncak bukit. Dengan motor yang meraung-raung dipaksa bekerja diluar kapasitasnya, sampailah kami di Bedugul dengan paha yang bebas disengat Mr. Sun anytime, anywhere. Salah satu tempat yang mencerminkan Bali banget dengan pure-purenya plus  upacara adat.
Tahun 2002 dan 2006 pernah kesini tpi ternyata di spot yang lain.  Meski paha rasanya kaya dioles balsem tapi udaranya cukup cesss, sejuk dan dingin.  Hari makin panas, makin lapar kamipun turun bukit dan mampirlah di cafĂ© tahu. Serba tahu…menyeberang lautan untuk makan tahu. Setelah para tahu memenuhi perut perjalanan dilanjutkan. Brem…brem…bremm, berhubung t4 yang kami tinggali ga jauh dari kuta, kamipun kembali ke kuta, menyapa Mr Sun melihatnya berlalu dari pandangan. Malam pun datang, kami nikmati dengan berjalan-jalan dikawasan Legian, dua hal yang dicari orang-orang dikawasan itu. 1) hiburan 2) uang. Berhenti sejenak di monumen ground zero Bali. Monument yang didedikasikan untuk 202 korban Bom Bali 1 yang terjadi pada 12 Oktober 2012. Nama-nama para korban tertulis di monument tersebut. Istirahatlah dengan tenang…. Legian ibarat jantung kehidupan malam di Bali, alunan musiknya, dentingan gelasnya, gelak tawanya, tarian-tariannya dan silau cahayanya. Sepertinya tidak ada kata kesepian disana, atau mungkin tangisnya tersamarkan oleh hingar bingarnya.
Dan…malam kamipun ditutup oleh babi guling yang berguling-guling diperut.

Day 3, (291213)
Pagiii Bali….akan kemana kita hari ini ??
Berbekal pengalaman dihari ke 2 akan si Paha yg terbakar Mr Sun dengan ganasnya, maka style orang liburan tetap dipertahankan dengan tambahan kain Bali yang melilit untuk menutup bagian kaki, khususnya paha yang sudah memerah seperti udang rebus. Dan destinasi hari ini adalah “all about beach” rencana sey gitu. Berbekal Gps dan tekad untuk menemukan Padang-Padang beach. Brem..brem..brem.. perjalanan dimulai. Entah kearah mana waktu itu kami melaju. Dan di GPS menujukkan kalau kami akan melewati GWK alias Garuda Wisnu Kencana. Yang menjadi ikon disana adalah patung Garuda Wisnu Kencana, karya pematung terkenal Bali, I nyoman Nuarta. Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara, mengendarai burung Garuda. Rencananya kalau patung ini selesai akan menjadi patung terbesar di dunia mengalahkan patung Liberty, tapi saya kurang tahu pasti apakah pekerjaannya masih dilanjutkan atau tidak, karna saat SMA sampai terakhir ke sana rasanya masih sama pemandangannya. Hal yang menakjubkan dari Bali adalah budayanya. Gabungan dari keindahan alam dan budayanya menjadikannya sungguh sungguh special. Seindah apapun alam disana tanpa adanya pure-pure yang menjulang pastilah tak akan menjadi luar biasa. GWK merupakan Taman Budaya dimana (mungkin) setiap hari diadakan pertunjukkan. Dan disanalah aku. Dengan girang duduk di bangku2 batu deretan depan menanti si Barong keluar. Puas bersama si Barong dan kawan-kawan saatnya lanjuuut perjalanan. Semakin ke pinggir, mencari pesisir. Dan muncullah destinasi pantai dreamland di GPS, tanpa ragu-ragu kami ikuti saja petunjuk jalan. Go straight…turn left…turn right. Dan  terlihatkan seolah sudah dekat, hamparan hijau yang begitu tenang dan silau. Bukan sawah yang membentang, dan tidak lain tidak bukan adl pantai dreamland yg dari kejauhan berwarna hijau. Merasa sudah dekat, berbeloklah kami. Go straight….straiiiiight terus dan ga sampai2. Masih jauh ternyata, kalau balik sia-sia perjalanan yg sudah dilewati akhrinya si “straight” berujung juga. Sampailah kami dihamparan si laut hijau, yang kalau dari dekat ya jadi biru semu-semu *&^^%$#@. Berfoto ria dengan style yg oke dihati sepet dimata, topi lebar yg menutupi muka, paha gosong dan sandal jepit kebanggaan. Setelah makin hitam legam saatnya menyudahi. Dan tertahanlah kita pada penjual jagung bakar yg selidik punya selidik dari Jawa. Jagung bakar juara 1 terenak yang pernah aku makan. Ditemani jagung bakar diperut, mulailah lagi perjalanan ke pesisir. Pantai Padang-padang. Pantai ini makin dikenal saat menjadi lokasi syuting Eat, Pray & Love yg dibintangi Julia Roberts. Pantai yang memberikan sensasi tersendiri. Hamparan pasir putih dan warna air lautnya yang biru kehijauan. Untuk mencapai pantai, terlebih dahulu harus masuk goa dengan jalan menurun yang sempit. Keluar dari goa disambut oleh monyet-monyet yang sepertinya sudah terbiasa dengan para wisatawan. Eksotisnya….rrrrr banget. Sayang di lokasi ini tak ada moment yang diabadikan karna faktor lelah sangat dan ingin totalitas memanjakan mata dengan keindahannya. Disana kamipun menemukan musisi, musisi pantai…begitu aku menyebutnya. Dengan alat yang menyerupai wajan ia melantunkan nada-nada yang tak biasa. Ajaib. Sebenarnya tidak jauh dari situ ada pertunjukan tari kecak dengan tiket Rp 75.000,- pada waktu itu. Tapi karna sudah terlalu sore jadi ga bisa nonton deeeh L. Senja datang lagi dan selamat datang wahai malam. Saatnya berburu ole-oleh. Pilihan kami jatuh pada Khrisna. Tempat yang nyaman dan apapun ada. Belanja ..belanja, yeey.

Day 4, (301213)
Dan…ini adalah hari terakhir di Bali, kurang puas cz kurang lama. Masih banyak yang ingin dinikmati. Tapi apa daya kantong sudah menipis. Pagi sampai siang kembali berburu oleh-oleh, entah di toko apa waktu itu. Saatnya berpacking, berransel ria menuju terminal bus menanti si safari datang. Menikati Bali dari balik kacanya ditemani suara ngorok si makhluk ajaib (baca: ninus).
Sampai ketemu lagi Bali….
Dan saat sebuah lagu melantun “di kuta Bali…kau peluk erat tubuhku”
Aku punya kenangan tentangnya, tentang Kuta dan tentang kita. Aku dan Kamu.

 Kuta beach
Dreamland Beach
  
Garuda Wisnu Kencana
Bedugul